By : Pdt. P. Silaban


DEFINISI :
1.      Gaya hidup dengan menerapkan nilai-nilai kerajaan Allah, dalam setiap aspek kehidupan.
2.      Mampu menolak gaya hidup yang dilakukan orang-orang dunia,yang tidak memiliki prinsip-prinsip kerajaan Allah
     Jika kita tinjau Dalam kitab PL orang yang boleh membakar korban ukupan hanya dapat dilakukan oleh Imam, dan seorang Raja tidak boleh dengan sembarang melakukan tugas  imam. Contohnya ketidak sabaran Raja Saul menunggu imam ia melakukan tugas imam yang mengakibatkan Allah menolak dan menyesal mengangkat Saul menjadi seorang Raja. (1 Samuel 13:14, 15:11). Namun kita bisa melihat dalam kitab PB, Perubahan yang dilakukan Yesus (1Petrus2:9) Allah menjadikan kita Imam yang Rajani. Dan tidak tanggung-tanggung kita dilengkapi dengan kuasa yang luar biasa ( Yohanes 14:12) Untuk mencapai hal tersebut ada hal-hal yang harus kita lakukan yakni :

 A     .HARUS MENJADI  ANAK    Yoh 1:12
Ciri Anak : 
  1. Telah memiliki keyakinan bahwa ALLAH sanggup memeliharanya seperti anak kepada orang tuanya.
  2. Mengalami kelahiran baru    ( Punya akte lahir sebagai tanda tercatat di pembukuan Yoh 3:3)
  3. Datang kepada Pendeta/ Konselor meminta Solusi/Pertolongan. 

B. BERTUMBUH  MENJADI  DEWASA
Ciri-Ciri :
  1. Mampu menyelesaikan masalah tanpa menghiraukan nyawanya Kpr 20:24
  2. Berpikir positif terhadap masalah yang di hadapi. Amsal 24:32
  3. Menyelesaikan masalah dengan tepat, tanpa mengakibatkan masalah
      datang ke Pendeta/konselor dan menceritakan bagaimana Allah 
      menolongnya menyelesaikan masalahnya. (Bukan motto Pegadaian)

C. MEMILIKI AREA/ WILAYAH
     Kerajaan ialah Melekh (Ibr), Beselea (Yun) Kingdom (ing), King itu Raja, Domain itu Area, Jadi di sebut Rajani ialah orang-orang yang memimpin area. Allah menginginkan kita menjadi imamat yang Rajani, imam yang memerintah dan bertanggungjawab atas area kita. Dalam suatu pelayanan Gereja local, area kita dapat disebut seperti Pemimpin Kesan, WL, Singers, Image, Usher, Musik, Penatua, Gembala, dsb. Namun Allah menginginkan iu kita lakukan dengan segenap hati seperti kepada Tuhan dan bukan untuk manusia ( Kolose 3:23), karena sesungguhnya dari Tuhanlah kita akan menerima  bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah (Kolose 3:24).

D. MEMILIKI INTEGRITAS KERAJAAN ALLAH).
       Orang yang memiliki integritas ialah orang yang memiliki sikap sesuai dengan apa yang di katakannya. Nah imammat yang rajani, harus belajar melakukan apa yang di ucapkan, jika ya hendaknya kamu katakana ya, dan jika tidak hendaknya kamu katakan tidak,(Yakobus 5:12). Bahkan kita bisa  tinjau dari injil (Matius 7:21-23) ada orang orang yang berseru /Percaya bahkan sudah melayani, dan sampai mengadakan muzizat, namun tidak melakukan kehendak Allah, orang tersebut tidak akan masuk kerajaan Allah. Dan orang itu tidak di akui oleh Tuhan, dan Tuhan sendiri yang akan menghardik orang  yang tidak melakukan kehendak Allah tersebut.


KETAKUTAN DALAM HIDUP

Ayat bacaan: Ibrani 13:5b-6
======================
"..Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau." Sebab itu dengan yakin kita dapat berkata: "Tuhan adalah Penolongku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?"

Ada begitu banyak sumber datangnya rasa takut. Beberapa contoh antara lain takut akibat ketidaktahuan, takut menghadapi masa depan, takut akan penyakit yang sedang diderita, takut akibat munculnya konflik secara jiwa atau juga rohani, takut akibat mengalami krisis secara finansial, khawatir akan karir atau reputasi, atau takut-takut lainnya seperti takut akan ketinggian, kegelapan, terhadap serangga, terhadap genangan air dan lain-lain. Secara medis beberapa jenis diantaranya dianggap sebagai sebuah phobia yang tidak sehat. Namun apapun itu, kita semua tentu pernah mengalami rasa takut. Dan rasa takut itu bukanlah sesuatu yang abstrak melainkan kita rasakan secara nyata. Sejak bayi orang sudah bisa merasakan rasa takut, dan itu akan terus ada hingga akhir hidup manusia. Meski demikian, rasa takut bukannya tidak bisa dikalahkan. Dalam batas-batas wajar rasa takut bisa berfungsi positif untuk membuat kita lebih berhati-hati dan serius dalam melakukan atau menjaga sesuatu, tetapi dalam porsi berlebihan rasa takut bisa merampas sukacita dari dalam diri kita, mendatangkan penyakit bahkan bisa menghancurkan hidup kita.
Yesus sudah sejak dahulu kala mengingatkan "Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?" (Matius 6:27). Atau Ayub berkata: "Karena yang kutakutkan, itulah yang menimpa aku, dan yang kucemaskan, itulah yang mendatangi aku." (Ayub 3:25). Artinya ketakutan yang terus kita pelihara itu sebenarnya tidaklah menguntungkan, malah sebaliknya bisa semakin merugikan atau menyulitkan kita. Iman merupakan jawaban atas rasa takut itu. Dengan iman kita bisa menggantungkan kepercayaan kita sepenuhnya kepada Tuhan. Tuhan sudah berjanji akan selalu menyertai kita, seperti janji yang diberikan Tuhan dan diamini sepenuhnya oleh Penulis Ibrani. ""..Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau." Sebab itu dengan yakin kita dapat berkata: "Tuhan adalah Penolongku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?" (Ibrani 13:5b-6). Janji seperti ini seharusnya bisa menjadi peneguhan bagi kita agar kiranya kita tidak perlu khawatir. Tuhan begitu peduli dengan segala kesulitan yang kita alami yang bisa menimbulkan rasa takut kita. Maka tidak saja Tuhan berulangkali memberikan janji akan penyertaanNya, tetapi Tuhan juga berbicara secara spesifik pada banyak penyebab rasa takut. Mari kita lihat beberapa diantaranya:

- Masalah finansial
Tuhan menyediakan segala sesuatu yang kita butuhkan."Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus." (Filipi 4:19). Tuhan bahkan mengatakan siap untuk menambahkan semuanya. "Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu." (Matius 6:33). Atau lihat apa kata Yesus berikut: "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu." (Matius 7:7). Semua ini menunjukkan kerinduan Tuhan untuk memberkati kita secara berkelimpahan,  dan ada banyak lagi ayat yang berbicara tentang hal ini.


- Dalam menghadapi musuh atau orang yang berniat jahat
Tuhan telah berjanji akan melindungi dan menjaga kita dalam setiap langkah. "Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan jangan gemetar karena mereka, sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau; Ia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau." (Ulangan 31:6)

- Terhadap trauma masa lalu
Tuhan memberikan kesempatan untuk menjadikan segala sesuatunya baru bagi kita. Kita bisa mengalami transformasi dan terlepas dari belenggu yang mengikat kita dari masa lalu. "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang." (2 Korintus 5:17).


- Terhadap ketidakpastian masa depan
Firman Tuhan mengatakan: "Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan." (Yeremia 29:11). Rancangan Tuhan berbunyi seperti itu, dan itu berlaku bagi kita semua. Tuhan tidak ingin satupun dari kita celaka atau terombang ambing tanpa kepastian. Ketika Dia menciptakan kita, Dia sudah menyediakan segala sesuatu yang baik dan penuh harapan kepada kita semua. Untuk itulah sangat penting bagi kita untuk mengetahui apa yang Dia sediakan dan rencanakan, lalu melakukan dengan sebaik-baiknya. Maka janji Tuhan ini pun akan bisa kita peroleh. Dalam Ulangan 28:13 Tuhan mengatakan bahwa kita menginginkan kita sebagai kepala dan bukan ekor, tetap naik dan bukan turun. Dan itu akan bisa digenapi apabila kita mendengarkan dan melakukan perintahNya dengan setia.

- Terhadap sakit penyakit
Tuhan Yesus telah menebus segalanya di atas kayu salib, dan dengan anugerah Tuhan yang besar bukan saja keselamatan yang diberikan kepada kita, tetapi kesembuhan pun hadir lewat bilur-bilur Yesus. "Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh." (Yesaya 53:5). Di dalam Roma kita bisa membaca ayat berikut: "Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus. Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut." (Roma 8:1-2). Yesus telah mengalahkan kuasa maut dan menjanjikan kita kehidupan yang kekal.


- Dalam masa-masa sulit
Firman Tuhan berkata "Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti." (Mazmur 46:2). Berpegang kepada Allah akan membuat kita mampu keluar sebagai pemenang tidak peduli situasinya serumit apapun, bahkan yang secara akal sehat tidak punya jalan keluar sekalipun. Allah yang kita sembah adalah Allah yang berkuasa lebih dari segalanya, oleh karena itu kita bisa melepaskan kekhawatiran kita apabila Dia bersama kita.


- Dalam jerat kegelapan
Meski kita tengah berada dalam situasi yang sangat buruk, seperti berjalan dalam lembah kekelaman (the valley of the shadow of death) sekalipun Tuhan sudah dengan jelas menyatakan bahwa Dia ada bersama umatNya disana lengkap dengan perlindunganNya. "Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku." (Mazmur 23:4).

Disamping ini semua, Tuhan juga siap memberi damai sejahtera dan melenyapkan rasa takut kita. Dalam Imamat Firman Tuhan berkata "Dan Aku akan memberi damai sejahtera di dalam negeri itu, sehingga kamu akan berbaring dengan tidak dikejutkan oleh apapun; Aku akan melenyapkan binatang buas dari negeri itu, dan pedang tidak akan melintas di negerimu." (Imamat 26:6). Tuhan memberikan keberanian laksana singa muda (Amsal 28:1) dan memberikan kekuatan baru laksana rajawali dengan kekuatan sayapnya. (Yesaya 40:31).

Ketakutan bukanlah berasal dari Allah. Dengan tegas Paulus berkata "Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban." (2 Timotius 1:7). Oleh karena itu jangan biarkan roh ketakutan yang bukan berasal dari Allah mengambil alih kuasa dalam diri kita dan merampas sukacita. Semua janji Tuhan di atas berakar pada iman dan ketaatan kita. Tuhan sudah menjanjikan segalanya agar kita tidak lagi perlu dicekam ketakutan atau kekhawatiran, kini tergantung dari kita apakah kita mau mendapat penggenapan janji-janji Tuhan itu atau tidak. Siapkah anda berjalan dengan berani dengan sebuah keyakinan baru hari ini? Mulailah untuk mengambil langkah menuju Tuhan, meski kecil sekalipun, dan alamilah bagaimana Tuhan sanggup mengatasi segala masalah yang mengganggu diri anda.

Jika anda membiarkan rasa takut bercokol dalam diri anda maka masa depan yang penuh harapan akan berlalu dari diri anda

Beban Sebuah Dosa

Seorang pendeta berdiri di pinggir jalan di dekat sebuah halte bus. Tak henti-hentinya ia berteriak: “Siapa yang percaya bahwa Yesus adalah Tuhan, maka ia akan diselamatkan.” Ia juga meneriakan agar semua manusia bertobat dan tak berbuat dosa.
Tiba-tiba seorang anak muda datang dan berdiri di depannya lalu bertanya; “Bapak pendeta; Anda mengatakan bahwa semua manusia adalah orang-orang berdosa tanpa terkecuali. Membawa serta dosa dalam diri sendiri sama dengan memikul sebuah beban yang amat berat. Namun saya tak pernah merasakannya sedikitpun. Katakanlah padaku, berapa berat sebuah dosa itu? Lima kilo? Sepuluh kilo? Atau seratus kilo?”
Sang pendeta memperhatikan anak muda tersebut dengan seksama lalu balik bertanya; “Bila kita meletakan 500 kilo beban ke atas mayat, apakah mayat tersebut akan merasa bahwa beban yang dipikulnya itu berat?” Dengan cepat dan pasti anak muda tersebut menjawab; “Tentu saja tidak!! Ia pasti tidak merasa berat karena ia telah mati.”
Sang pendeta mengagumi anak muda tersebut. Sambil tersenyum ia menjawab; “Hal yang sama terjadi pada kita. Kita tentu tak merasa bahwa beban dosa yang kita pikul itu berat. Karena pada saat kita berada dalam dosa, saat itulah kita sebetulnya telah mati.”
-------------
Bila anda masih mampu merasa sakit berhadapan dengan dosa-dosa yang anda perbuat, maka bersyukurlah karena Roh Kudus sedang bekerja dalam diri anda untuk mengingatkan anda untuk tak berbuat dosa lagi. Namun bila suatu saat anda tak merasa bersalah sedikitpun saat berbuat dosa, maka saat itu sebetulnya anda telah mati.
“Karena itu setiap orang yang tetap berada di dalam Dia, tidak berbuat dosa lagi; setiap orang yang tetap berbuat dosa, tidak melihat dan tidak mengenal Dia.” (1 Yohanes 3: 6)

PENATUA DI DALAM PERJANJIAN BARU

Jemaat-jemaat Kristen, seturut kebiasaan jemaat Yahudi, dipimpin oleh suatu dewan Tua-Tua yang dalam kehidupan jemaat meneruskan tugas para rasul. Seorang Tua-Tua dipilih menurut kriteria tertentu dan dilantik dengan penumpangan tangan.

ASAL-USUL JABATAN PENATUA
Kitab-kitab perjanjian Baru tidak memberikan informasi mengenai proses pembentukan Penatua. Dalam Kisah Rasul kita membaca bahwa jemaat Kristen pada mulanya dipimpin oleh para Rasul. Mereka menjabat semua jabatan yang ada di jemaat. Para Rasul ini tidak saja bertindak  sebagai saksi mta dan telinga dari segala sesuatu yang dilakukan oleh Yesus Kristus; melainkan juga melakukan apa yang  seharusnya terjadi di dlam gereja, yaitu: melayankan firman, berdoa di depan umum, memelihara orang miskin (Kis. 6: 4); menjaga disiplin gereja (Kis. 5: 3 dst.); mengambil keputusan dalam soal-soal iman  (Kis. 15: 1 dst.)  serta  membimbing  jemaat    (I Kor. 1: 10).
Kisah Rasul 14: 23 memberikan kesaksian bahwa Paulus dan Barnabas mengangkat Tua-Tua dalam  setiap jemaat. Hal ini memberi kesan kepada kita bahwa jabatan rasul dipecah dan dikembangkan di dalam jabatan Tua-Tua. Tua-Tua inilah yang melanjutkan tugas pelayanan rasul-rasul di jemaat setempat.

PANGGILAN DAN TUGAS SEORANG PENATUA
Panggilan dan tugas seorang Pejabat gerejawi, baik secara pribadi maupun bersama-sama dalam kemajelisan dapat dikatakan  sebagai berikut:


a. Mengepalai jemaat.
Seorang Penatua bersama rekan sepelayanannya di dalam wadah Majelis jemaat bertugas memimpin jemaat Tuhan (I Tes. 5: 12; I Tim. 5: 17). Mereka juga harus mengatur rumah Allah (Titus 1: 7). Di sini Paulus memakai kata “Oikonomos” yang dapat berarti bendahara atau pemimpin usaha. Sebagai kepala jemaat. Pejabat gerejawi harus dapat mendorong warga gereja melaksanakan tri-tugas panggilannya sebagai, yaitu bersekutu, bersaksi dan melayani baik secara pribadi maupun bersama-sama.

b. Melayani jemaat secara Pastoral.
Dalam Kisah Rasul 20: 28, Paulus menasehati para Penatua jemaat Efesus, Karena itu jagalah dirimu…krena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan jemaat Allah…” Maksud dari menilik di sini bukanlah memeriksa dan mengawasi atau mencari-cari kesalahan. Pengertian yang sebenarnya ialah mempedulikan atau memperhatikan.

Tugas ini harus dilaksanakan secara pastoral, seperti seorang gembala ternak memperlakukan kawanan domba. Jadi maksud Paulus tidal lain adalah agar setiap pelayan Tuhan memelihara dan menggembalakan jemaat. Sebagaimana layaknya gembala yang sejati mencari domba yang sesat, terluka dan sakit. Begitu pula, seorang Penatua harus memperhatikan warga jemaat yang Tuhan percayakan kepadaNYa.

Pemeliharaan pastoral memberi dampak lain di dalam tugas seorang Penatua yaitu harus menasihati berdasarkan ajaran yang sehat, ajaran yang sesuai dengan kesaksian Alkitab (Titus 1: 9). Hal menasihati tidak saja dilakukan kepada mereka yang telah salah langkah; melainkan secara umum menyatakan kepemimpinan rohani kepada jemaat, khususnya bagaimana jemaat harus bertindak dalam hidup sehari-hari. Yang dalam pelaksanaannya dapat dilakukan secara langsung kepada warga jemaat yang bersangkutan atau melalui sikap hidupnya sehari-hari. Jika perlu, seorang Penatua dapat menegur anggota jemaat yang melakukan kesalahan. Namun perlu diingat bahwa teguran itu harus bersifat korektif, memperbaiki sesuatu yang keliru.


c. Menjaga kemurnian ajaran.
Sebagai Rasul, Paulus berulang kali mengingatkan jemaat-jemaat akan bahaya ajaran sesat yang siap mengancam kehidupan beriman gereja dan warganya (Kis.20: 29; Titus 1: 9,10). Apakah kriterianya jika suatu ajaran itu dikatakan benar dan murni? Suatu ajaran dapat dikatakan murni dan benar apabila selaras dengan pemberitaan Kristus dan Rasul-rasul seperti yang tercatat dalam Alkitab kita.
Oleh sebab itu, seorang Penatua dituntut untuk memahami kebenaran firman Tuhan serta pegangan ajaran gerejanya yang berpadanan dengan firman Tuhan itu sendiri. Hal ini perlu dilakukan agar ia sendiri tidak terombang-ambing oleh rupa-rupa angin pengajaran  dan menjadi batu sandungan baik bagi gerejnya, warga jemaat maupun sesama rekan sepelayanannya.

SYARAT-SYARAT MENJADI PENATUA
Paulus dengan tegas memberikan syarat-syarat bagi mereka yang akan diangkat sebagai Penatua dalam I Tim. 3: 2-7 dan Titus 1: 6-9. Dari kedua bagian Alkitab ini kita dapat melihat ada empat pesyaratan yang harus dipenuhi oleh mereka yang akan dipilih menjadi penilik (Tua-Tua/Penatua) jemaat, yaitu:

1. Pola kehidupan Penatua
Seorang Tua-Tua/Penatua hendaknya tidak bercacat. Artinya kelakuannya tidak boleh memberi alasan bagi orang lain untuk memfitnah atau melontarkan kritik yang pedas. Ia jangan menjadi batu sandungan bagi orang lain.
Ia haruslah suami dari satu istri atau seorang istri dari satu suami. Apabila kita mendengar maraknya perceraian dan poligami; maka kita dapat mengerti bahwa kehidupan seorang Penatua harus dapat menjadi contoh di dalam kesetiaan kepada pasangan hidupnya.
Seorang Penatua hendaknya dapat menahan diri dan mengalahkan hawa nafsu yang dapat merusak hubungan dengan orang lain dan Tuhannya; serta mampu mengendalikan diri. Bijaksana dalam mengambil kebijakan dan sopan santun dalam tutur katanya.
Penatua juga harus suka memberi tumpangan. Pada jaman Perjanjian Baru kesediaan untuk memberi tumpangan merupakan salah satu kebajikan setiap orang kristen. Pada masa itu banyak pekabar injil yang berkelanan untuk menyebarkan berita injil dan mereka membutuhkan tumpangan. Jadi kerelaan memberi tumpangan berkaitan erat dengan pemberitaan injil.
Seorang Penatua hendaknya bukan seorang peminum (pemabuk), bukan pemarah melainkan peramah, pendamai dan bukan hamba uang. Ia haruslah seorang yang cinta damai dan suka akan kerukunan.

2. Pola kehidupan keluarga Penatua
Paulus menuliskan syarat demikian: “….seorang kepala keluarga yang baik, disegani dan dihormati oleh anak-anaknya. Jikalau seorang tidak tahu bagaimana memimpin keluarganya bagaimana mungkin ia dapat memimpin dan mengurus jemaat Alah.”
Keluarga yang baik itu haruslah nyata dari sikap dan tingkah laku anak-anaknya sendiri yang mau menghormati ayahnya dan tunduk kepada nasihatnya. Titus 1: 6 berbicara tentang anak-anak yang hidup beriman. Jikalau orang kurang mampu memimpin keluarganya sendiri da mendidik anaknya bagaimana ia dapat bertindak di dalam keluarga  besar, yaitu jemaat ?

3. Cakap mengajar orang
Seorang Penatua harus cakap dalam memimpin  dan mengarahkan jemaat di jalan Tuhan, yaitu menanamkan dampak pengajaran Injil Kristus Yesus di dalam perbuatan hidup sehari-hari. Seorang Penatua terpanggil untuk memberi pimpinan rohani kepada jemaat.
Dalam Titus 1: 9 dikatakan bahwa Penatua berada dalam proses yang tidak pernah berhenti untuk mendalami ajaran-ajaran Kristus; yang pada akhirnya harus ia sampaikan kepada orang lain, baik melalui perkataan maupun melalui perbuatan lainnya.

4. Bukan petobat baru dan harus punya nama baik di luar jemaat
Hal ini adalah persayaratan praktis yang berkaitan dengan citra Tua-Tua di dalam maupun di luar jemaat. Kita tahu bahwa kekristenan masih baru pada jaman Paulus. Seorang petobat baru dengan sendiri menarik perhatian yang cukup besar dari lingkungannya. Lagi pula petobat baru dapat jatuh ke dalam dosa kesombongan apabila segera diangkat menjadi Penatua. Nama jelek di luar jemaat dapat menjadi batu sandungan bagi mereka yang melihatnya. Paulus memberikan syarat ini agar jangan ia digugat orang dan menjadi batu sandungan bagi warga jemaat.
Daftar persyaratan ini dapat membuat kita ciut, berkecil hati.. Sebab siapa yang mampu memenuhi persyaratan itu. Dalam praktiknya mungkin tidak ada orang yang mampu memenuhi seluruh persyaratan itu. Tetapi itu tidak berarti segala persyaratan itu dapat diabaikan pada saat kita memilih seorang Penatua. Persyaratan ini dicantumkan Paulus untuk memperlihatkan bahwa jabatan Penatua bukanlah jabatan sembarangan dan dapat disepelekan dalam pelaksanaannya.
Persyaratan ini diajukan  bukan dimaksud supaya ita dapat menolak pangilanNya dengan berkata, “saya tidak layak dan tidak sanggup.” Perlu diingat bahwa jabatan gerejawi tidak berdasar kepada kebaikan atas prestasi dari mereka yang memangkunya. Itu semua karena kasihNya yang memberikan kepada kesempatan untuk menjadi pimpinan dan panutan jemaat. Kalau Tuhan memilih seseorang maka Ia akan melengkapi dan memampukan orang tersebut di dalam pelayanannya.

SIFAT-SIFAT  SEORANG PENATUA
Dalam kesempatan ini kita akan  berbicara tentang beberapa sifat yang musti nampak dalam kehidupan pelayanan seorang pejabat gerejawi. Hal ini patut kita perhatikan sebagai cermin bagi diri kita. Beberapa sifat yang musti nampak dalam kehidupan pelayanan itu antara lain:

1. Kesetiaan/setia
Setia artinya tetap dan teguh hati, taat/patuh atau berpegang teguh. Galatia 5: 22-23 menyebut kesetiaan sebagai salah satu buah-buah Roh. Kata setia merupakan terjemahan dari  kata “pistis”. Kata “pistis”  selain dapat diterjemahkan dengan arti kesetiaan dapat juga diterjemahkan dengan iman. Kedua kata ini saling berkaitan dan melengkapi. Tindakan iman dapat terjadi kalau dilandasi oleh kesetiaan dan kesetiaan dapat terwujud apabila dilandasi oleh iman.
Mengapa kesetiaan menjadi ciri yang pertama harus ada dalam diri setiap pejabat gerejawi? Karena kesetiaan adalah syarat yang pertama dan terutama untuk dapat melaksanakan tugas panggilan pelayanan yang telah Tuhan percayakan. Apabila kesetiaan tidak ada maka pelaksanaan tugas pelayanan akan macet dan sering kali tidak membuahkan hasil.
Beberapa contoh sikap kesetiaan yang musti nampak dalam diri setiap pejabat gerejawi ialah sebagai berikut:
Setia
Kepada Tuhan yang memanggilnya
Setia
Menjaga anggota jemaat agar tidak tersesat
Setia
Mengikuti kebaktian jemaat
Setia
Mengunjungi warga jemaat
Setia
Mengikuti Rapat Majelis jemaat
Setia
Mengikuti rapat-rapat gerejawi
Setia
Menghibur orang sakit
Setia
Membaca dan merenungkan firman Tuhan
Baik secara pribadi maupun bersama keluarga
Setia
Berdoa
Setia
Terhadap gerejanya
2. Rendah Hati
Rendah hati artinya tidak sombong/angkuh; tidak meninggikan diri sendiri  dan merendahkan orang lain. Dalam diri manusia terdapat suatu bahaya besar yang berakar dalam hati dan siap muncul dalam diri manusia apabila memangku suatu jabatan, yaitu kesombongan.
Dosa pertama Adam dan Hawa muncul dari sifat kesombongan. Mereka menolak untuk merendahkan hati di hadapan Tuhan. Mereka ingin menjadi sama seperti allah. Secara kongret kesombongan manusia diperlihatkan pada waktu pembangunan Menara Babel. Manusia pada umumnya suka mengangap dirinya paling penting, paling pandai, paling tinggi, paling tahu dan lain sebagainya.
Paulus dalam Surat Roma 12: 16 menasihati, “…janganlah menganggap dirimu pandai !” Sedangkan rasul Petrus dalam suratnya berseru, “…dan kamu semua, rendahkanlah dirimu sendiri seorang terhadap yang lain sebab Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihi orang yang rendah hati…” (I Petrus 5: 5). Selain itu baca juga: Yeremia 9: 23-26; Mazmur 101: 5; Amsal 8: 13; I Kor. 1: 28-31; I Kor. 4: 6-7.
Sifat rendah hati harus menjadi bagian dari kehidupan seorang pejabat gerejawi karena sebenarnya Tuhan tidak menyukai orng yang sombong dan tinggi hati (Mazmur 101: 5). Seorang pejabat gerejawi yang tinggi hati, congkak, terlalu memuji diri; melupakan bahwa semua kemampuannya bahkan segala sesuatu yang dimilikinya berasal dari Tuhan. Kita jangan lupa bahwa segala sesuatu yang ada pada kita adalah pemberian Tuhan. Diberikan kepada kita untuk dipkai dengan segala  kerendahan hati bagi kepentingan orang banyak dan gerejaNya. Seorang pejabat gerejawi tidak boleh melupakan bahwa bukan dirinya sendiri yang menciptakan dirinya menjadi berhikmat atau pandai dalam suatu atau berbagai bidang tertentu. Itu semua adalah semata-mata pekerjaan Tuhan.

3. Dapat menjaga rahasia jabatan.
Seorang pejabat gerejawi sering mendengar masalah anggota jemaat. Lebih-lebih pada saat berkunjung ke rumah anggota jemaat ia dapat mendengar hal-hal yang sifatnya rahasia, yang orang lain sama sekali tidak boleh mengetahuinya. Ada hal yang dipercayakan kepada kita. Sebab ada anggota jemaat tertentu yang ingin mendapat nasehat, penghiburan, hikmat dari kita. Sebagai pejabat gerejawi kita memegang teguh rahasia pribadi orang lain yang diceritkan kepada kita.
Suatu kesalahan besar apabila seorang pejabat gerejawi menceritakan  hal seperti itu kepada orang lain, walaupun itu kepada istri atau suaminya sendiri. Sikap yang buruk ini dapat merusak  suasana keterbukaan yang ada antara seorang anggota jemaat dengan seorang Penatua atau Pendeta. Jika seseorang  mendengar bahwa rahasianya tidak aman pada seorang Penatua atau Pendeta, maka pasti orang itu tidak akan bercerita lagi secara terbuka mengenai masalah hidupnya.
Bahkan dalam rapat Majelis jemaat pun seorang pejabat gerejawi harus dapat merahasiakan apa yang wajib dirahasiakan. Harus dipertimbangkan dengan baik apa yang perlu dilaporkan dan mana yang tidak perlu dilaporkan kepada persidangan.
Ingat prinsip ini: Jagalah kehormatan dan nama baik anggota jemaat. Dan jaga pula kehormatan serta nama baik jabatan gerejawi yang Tuhan percayakan kepada kita.

4. Kooperatif (dapat bekerja sama)
Seorang pejabat gerejawi harus menuyadari bahwa dalam kepemimpinan jemaat  ia tidak bekerja sendiri. Ia merupakan bagian dari satu tim yang bekerja dan berjalan bersama dalam mencapai tujuan yang sama. Ingat pepatah: “Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh.” (Bandingkan dengan Mazmur 133; I Korintus 12: 12-31).
Tidak ada pekerjaan yang terasa berat apabila dikerjakan bersama-sama. Sikap kooperatif membuat suasana pelayanan menjadi nyaman dan penuh kegembiraan. Dalam sikap yang kooperatif ini tidak akan ada seorang pun yang berusaha menonjolkan diri atau membiarkan rekan sepelayanannya bekerja sendiri.

5.  Terus belajar untuk mengembangkan diri
Banyak kelemahan pejabat gerejawi di sini. Mereka tidak mau terus belajar dan menguasai hal-hal baru bagi peningkatan pelayanannya. Sebagai pejabat gerejawi kita tidak boleh berpuas diri dengan apa yang telah dapat kita kerjakan. Banyak belajar membuat kita bertumbuh dan berbuah semakin lebat bagi Kristus dan jemaatNya. Semakin banyak hal kita ketahui dan semakin terampil diri kita dalam berbagai hal akan sangat berarti bagi peningkatan pelayanan terhadap jemaat.
Mendapat panggilan dan kepercayaan Tuhan untuk memimpin jemaatNya adalah suatu hal yang istimewa. Sebab tidak semua orang dipercaya Tuhan menjadi pelayan jemaatNya. Oleh sebab itu, marilah kita tunaikan tugas  panggilan kita selaku pejabat gerejawi dengan penuh kesetiaan, tanggung jawab, kerendahan hati, terus belajar mengembangkan diri dan kerja sama yang baik dengan sesama rekan sepelayanan. Sebab kita melayani Tuhan yang telah terlebih dahulu melayani kita. Be blessed!

“Kepemimpinan adalah perbuatan bukan jenjang kepangkatan.”
(Donald H. Mc. Gannon)


Sumber :  http://blessedday4us.wordpress.com/2010/05/28/penatua-di-dalam-perjanjian-baru/

PEMUDA KRISTIANI: Harus Menjadi Teladan!

Muda-mudi MDC Palembang
Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih?  Dengan menjaganya sesuai dengan firman-mu." Mazmur 119:9

Pemazmur menyatakan bahwa hanya dengan firman Tuhanlah anak muda dapat mempertahankan kelakuannya tetap bersih dan sesuai dengan kehendak Tuhan.  Oleh sebab itu para pemuda Kristiani harus banyak terlibat dalam kegiatan-kegiatan rohani supaya waktu-waktu luang yang ada mereka gunakan untuk hal-hal yang positif dan membangun iman.  Mereka harus melatih diri dalam hal ibadah, artinya:  tidak  "...menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang,... dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat." (Ibrani 10:25).  Semakin banyak mereka mendengar Firman Tuhan semakin kuat pula iman mereka, karena  "...iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus." (Roma 10:17).  Bagi anak-anak Tuhan, tidak mengikuti tren teman-teman bukanlah akhir dari segalanya.  Sebaliknya, hal ini juga bukan berarti kita menjadi pemuda yang 'kuper' dan out of date.

Tuhan menghendaki kita menjadi orang-orang muda Kristen yang berkualitas dan memiliki kehidupan yang berbeda dari anak-anak muda di luar Tuhan, yang meski masih muda tetapi memiliki integritas dan tidak berkompromi dengan dosa;  berani berkata tidak dan menolak setiap ajakan maupun kebiasaan hidup yang tidak berkenan kepada Tuhan meski hal itu mengandung resiko:  ditinggalkan dan dikucilkan teman.  Yang Tuhan mau adalah kita menjauhi nafsu orang muda, karena segala keinginan untuk memenuhi hawa nafsu hanyalah akan membawa kita kepada kebinasaan. Karena itu kita harus memiliki kekariban dengan Tuhan supaya kita beroleh kekuatan untuk dapat menolak setiap hawa nafsu yang ada.  Rasul Paulus berpesan,  "Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda.  Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu." (1 Timotius 4:12).

Masa muda adalah masa emas bagi kita untuk memaksimalkan potensi yang ada dan memacu kita untuk do our best dalam segala hal, baik dalam perkataan, tingkah laku, kasih, kesetiaan, ketekunan dan juga kesucian.

Nama Tuhan dipermuliakan ketika kemudian kita menjadi teladan bagi teman-teman dan lingkungan kita.


Lalu apa saja yang dapat dikategorikan sebagai karakter Kristus? Setidaknya yang dapat kita lihat:
  1. Peduli dengan orang-orang yang terpinggirkan.
  2. Kejujuran.
  3. Ketaatan akan tugas dan tanggung jawabNya.
  4. Menunjukkan kasihNya kepada semua orang.
  5. Kerendahan hatiNya sebagai seorang hamba.
Ketika seorang anak, remaja, pemuda memiliki karakter yang demikian maka dapat dipastikan dalam kehidupannya akan senantiasa menumbuhkan kebaikan-kebaikan, baik bagi dirinya maupun orang-orang disekitarnya. Karena disadari dalam perkembangan kehidupan moral dewasa ini berpotensi besar untuk membangun karakter anak yang penuh dengan persaingan, satu dengan yang lain saling mengalahkan dan tidak peduli dengan orang-orang yang terpinggirkan. Supaya dapat menumbuhkan karakter Kristus dalam diri anak, pemuda dan remaja maka, diperlukan sebuah pendidikan bagi mereka untuk dapat mengerti, memahami dan melakukannya. Namun dalam pendidikan tersebut tidak hanya berpusat mengenai sistem dan materi ajar saja sehingga mereka dalam memiliki karakter Kristus. Akan tetapi yang terutama adalah tenaga pendidik yang menjadi model bagi mereka dalam mencitra karakter Kristus dalam kehidupannya.
Tenaga pendidik tersebut dapat tempatkan sama seperti Rasul Paulus ketika dia menjadi 'guru' dari Timotius yang masih awam dalam menjalankan tugasnya sebagai pelayan Allah.
Tentunya ada idealisme yang diterapkan kepada Timotius sehingga dia mendapatkan tugas yang demikian. Yang tidak lain adalah adanya karakter Kristus di dalam dirinya. Dalam memberikan pendidikan kepada Timotius, Rasul Paulus tidak hanya menuliskan suratnya seperti yang dapat kita baca dalam I Timotius 1: 5-19. Sehingga Timotius dapat mengerti akan tugas dan panggilannya. Namun Rasul Paulus juga menjadi model yang mencitrakan karakter Kristus yang dapat dilihat dan ditiru oleh Timotius. Dalam pelayanan Paulus dapat kita lihat bagaimana dia memperjuangkan kesamaan hak dan kewajiban bagi orang-orang Yunani yang tidak bersunat sebagai anggota tubuh Kristus. Dia juga berinisiatif untuk membantu orang-orang miskin di Yerusalem dengan mengumpulkan persembahan dari jemaat-jemaat pelayanannya. Dan begitu gigihnya dia memberitakan Injil hingga dia dipenjara berulang-ulang. Dan dengan jujur menceritakan masa lalunya yang kelam kepada Timotius sebagai seorang penghujat dan penganiaya pengikut Kristus.
Ketika kita mempunyai harapan bagi generasi penerus kita untuk memiliki karakter Kristus dalam diri mereka, maka tumbuhkanlah terlebih dahulu karakter Kristus dalam diri kita. Sudah banyak argumentasi, pemahaman dan pembicaraan bagaimana supaya anak, remaja dan pemuda memilki karakter Kristus dalam diri mereka. Namun tidak banyak mereka menemukan karakter Kristus yang dapat mereka lihat dan teladani. Oleh karena itu marilah kita menjadi Paulus masa kini yang memunculkan Timotius-Timotius muda masa kini. Dengan demikian generasi penerus kita dapat menjadi terang dan garam di tengah-tengah dunia ini. Tuhan memberkati. Amin.
Bacaan: Timotius 1 : 5 – 19
 

MEMBANGUN HUBUNGAN DENGAN TUHAN

Doa pembuka………………
Membangun hubungan dengan Tuhan bukanlah sebuah langkah yang sulit. Sebab firman Tuhan berkata, Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu (Yak 4:8). Di dalam bahasa Inggris, pesan firman ini lebih jelas. Dikatakan bahwa draw near to God and he will draw near to you. Di dalam pengertian aslinya, draw near menggambarkan tangan kita yang mendekat, menyambut uluran tangan Tuhan, yang sudah terlebih dahulu terulur pada kita. Kalimat ini amat jelas tujuannya yaitu sebuah hubungan persekutuan di dalam doa antara manusia dan Allah, menggambarkan gairah dan keinginan bersekutu denganNya. Inisiatip hubungan itu adalah Allah sendiri dan bagian kita adalah menyambut inisiatipNya. Kita harus memberi respon. Saya suka membayangkan anak saya sewaktu bermain layangan. Ketika ia berusaha menarik turun layangan itu dengan benang, maka layang-layang tersebut makin dekat kepadanya. Berarti, di dalam hubungan dengan Tuhan, usaha untuk mendekat kepada Allah harus dimulai di dalam diri kita. Semakin kita menginginkanNya, bergairah, maka sikap itu akan menjadi sinyal bagi Allah untuk menjawab kegairahan kita kepadaNya.


Saya suka menjelaskan kepada teman teman dan anak-anak rohani yang Tuhan kirim. Bahwa aturan di dalam membangun hubungan dengan Tuhan, ada di dalam diri kita. Bukan di dalam diri orang lain atau pengalaman orang lain. Gagalnya kita membangun hubungan dengan Tuhan seringkali terjadi karena kita terlalu terfokus pada pengalaman orang lain dan secara alamiah menjadikan itu sebagai sebuah standard yang juga harus kita alami. Ini jebakan iblis yang mau menggagalkan hubungan kita dengan Tuhan. Perhatikan aturan ini. (a) Setiap kita punya hubungan yang khas dengan Tuhan yang tidak harus sama dengan pengalaman orang lain. Tuhan kita sangat kreatif. (b) Hubungan dengan Tuhan tidak pernah dapat dimetodakan. Seringkali cara Tuhan intim dengan seseorang berbeda secara radikal dibandingkan caranya dengan orang lain.

Tuhan pasti punya cara berhubungan dengan kita. Di dalam Alkitab dengan jelas Yesus mengatakan, "Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu” (Matius 6:5-6). Doa merupakan sebuah hubungan intim yang tidak boleh diketahui oleh orang lain. Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi di dalam kamar sewaktu sepasang suami isteri sedang berada di dalam. Keintiman dengan Tuhan seperti itu. Setiap orang punya cara yang khas untuk terhubung dengan Tuhannya di dalam “kamar”nya masing-masing. Tapi coba kita lihat apa yang terjadi hari-hari ini. Banyak orang justru memamerkan bagaimana ia cinta Tuhan dan berhubungan dengan Tuhan secara emosional di hadapan orang lain. Orang seperti ini biasanya tidak berakar di dalam hubungan intim. Bahkan apa yang mereka tampilkan bukanlah hubungan yang sejati. Mereka menyembah Tuhan tidak dengan roh tetapi di jiwa. Yesus mendeteksi kehadiran orang-orang ini disekelilingnya dan mencerca mereka dengan sebutan munafik! Orang seperti ini hanya memakai topeng di dalam setiap pekerjaan pelayanan yang dilakukannya. Saya banyak menjumpai orang-orang di dalam pelayanan saya yang memang terlihat sangat rohani dan antusias di depan jemaat dan orang lain, menyatakan kecintaannya kepada Tuhan. Tetapi dikemudian hari terungkap bahwa orang ini ternyata tidak seperti itu. Dia suka menceritakan kerinduannya untuk terhubung dengan Tuhan tetapi pada kenyataannya apa yang ditampilkannya adalah sesuatu yang emosional. Sesuatu yang ingin dilihat oleh orang lain.

Ada satu contoh kasus di dalam gereja. Pada waktu Yesus sedang berada di dekat kotak persembahan, Dia dengan jelas mengamati seseorang yang memberikan persembahan dalam jumlah besar agar orang di dalam gereja melihat siapa dia. Sesaat setelah itu, seorang janda miskin juga memasukkan persembahannya. Tetapi Yesus berkata maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. (Markus 12:43). Itu sebabnya saya seringkali berkata kepada teman-teman di dalam pelayanan, hati-hati menerima persembahan dari orang yang secara emosional tidak stabil. Hatinya dengan cepat dapat berubah dari mendekatimu menjadi membenci atau menjauhimu hanya karena kita – hamba hamba Tuhan – tidak mau menuruti apa yang menjadi keinginannya. Di dalam buku saya Intrik Di Dalam Gereja (Metanoia, Jakarta, 2004), saya ungkapkan bahwa kekacauan di dalam gereja seringkali dipicu oleh ulah sejumlah orang yang secara finansial kuat tetapi mengatur gembala atau hamba Tuhan. Dalam pengalaman pelayanan profetik yang saya lakukan, saya merasa di dalam roh, sejumlah orang-orang tertentu menjadi kecewa hanya karena mereka tidak bisa memperoleh informasi profetik tentang diri orang lain yang pernah terhubung dengan saya. Mereka lupa, bahwa kita hamba-hamba Tuhan harus mempertanggungjawabkan apapun yang keluar dari mulut kita kepada Tuhan sebab semua rahasia orang lain ada di dalam diri kita. Jika kita “bocor mulut” maka tidak ada alasan lagi bagi Tuhan untuk mempercayai kita lagi dengan urapan dan pewahyuanNya yang baru. Bahkan isteri sayapun tidak pernah tahu apa yang menjadi bahan pembicaraan saya dengan seseorang yang sedang atau telah saya layani. Kita harus membangun pelayanan yang takut akan Tuhan! So, sdr-sdr tidak perlu takut kehilangan berkat. Amin…

Perhatikan! Kemunafikan di dalam Tuhan dapat membuat siapa saja tidak stabil dan terjebak untuk membangun kepalsuan. Ini bukan penyembahan atau kerinduan yang sejati. Orang yang seperti ini terjebak pada metoda dan pengalaman orang lain. Oleh sebab itu, saya menegaskan satu hal penting bagi kita semua di tempat ini, bahwa hubungan dengan Tuhan tidak dibangun atas dasar pelayanan atau pengalaman orang lain tetapi atas rasa cinta yang ada di dalam diri kita secara pribadi kepadaNya. Dengan cara itu, Roh Kudus akan menuntun kita bertindak dan mengarahkan kita dalam hubungan yang sangat pribadi denganNya, yang khas dengan kita. Penyembahan, kerinduan dan hubungan yang sejati ada di dalam kamarmu! Bukan apa yang kamu tampilkan di depan orang banyak. Bukan persembahan persembahan materi yang engkau berikan kepada orang lain. Bukan gayamu saat memuji dan menyembah yang menarik perhatian orang lain. Tetapi ditentukan oleh bagaimana hatimu dengan sungguh-sungguh mencari wajahNya, pada saat engkau sedang terhubung denganNya di dalam kamar secara pribadi.
Perjumpaan di dalam kamar adalah sebuah intimacy. Allah bergairah terhadap setiap keintiman. Alkitab pernuh dengan firman yang bersifat janji. Perhatikan, janji selalu berhubungan dengan pemberian Allah kepada sdr dan saya. Pemberian adalah salah satu sifat Allah yang melekat di dalam diriNya. Tetapi ada satu hal yang membuatNya bergairah. Allah mencari yang satu itu. Di dalam Yohanes dikatakan bahwa Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian (Yohanes 4:23). Terjemahan bahasa Inggris lebih spesifik menjelaskan ayat tersebut. But the hour cometh, and now is, when the true worshippers shall worship the Father in spirit and in truth: for the Father seeketh such to worship him. Sangat jelas artinya. ALLAH MENCARI!

Dimana ada penyembahan, disanalah Allah hadir sebab Dia menginginkan penyembahan dan tentu saja penyembah. Penyembahan adalah sesuatu yang menyenangkan hatiNya. Ketika Daud memburu Tuhan dan berkeinginan berada di dekatNya setiap saat, Daud membentuk dirinya menjadi seorang penyembah. Dia bahkan membangun komunitas penyembahan disekeliling tabut Tuhan, duapuluh empat jam, imam-imam musik bergiliran menari, memuji dan menyembah Tuhan. Hadirat Allah hanya dapat ditarik dan dipertahankan melalui penyembahan. Rupanya ini kuncinya! Penyembahan adalah kunci keintiman kita dengan Tuhan. Alkitab berkata, Padahal Engkaulah Yang Kudus yang bersemayam di atas puji-pujian orang Israel. (Mazmur 22:3) .

Dalam beberapa ibadah dimana saya melayani, saya selalu memimpin pujian dan penyembahan terlebih dahulu manakala Roh Kudus mengingatkan untuk membangun atmosfir di atas tempat itu. Kita harus membuat Allah bertahta terlebih dahulu jika kita mau melihat kuasa Tuhan dilepaskan di dalam setiap pelayanan. Ketika Allah sudah bertahta, maka segala tekanan, ikatan di dalam ruang ibadah, akan terlepas dengan sendirinya. Orang-orang dijamah oleh Tuhan di tempat dimana mereka berada. Yang sakit disembuhkan dan semua orang menikmati hadirat Tuhan yang nyata. Ini penting bagi kita hamba-hamba Tuhan. Jangan pernah melayani dengan kekuatan manusia. Kuasa tidak ada dan ucapan mulut kita akan kosong! Tetapi kalau Allah sudah bertahta, atmosfir akan berubah. Setiap pewahyuan yang keluar dari mulut kita dilepaskan dengan kuasa yang membuat iman orang yang mendengarnya bangkit dan dijamah hatinya. Tentu saja, kita harus dekat dengan Bapa terlebih dahulu. Kita harus punya hubungan khusus – sebagai seorang imparter – di dalam setiap pelayanan kita. Saya pernah menerima konseling seorang pelayan dan ini membuat saya sedih. Dia berkata, “pak saya baru buka Alkitab saat besok minggu khotbah”. Ketika saya bertanya bagaimana dengan doa dan puasa, dengan enteng dijawabnya, “sama pak”.

Rasul Paulus mengingatkan kita untuk menyala-nyala terlebih dahulu sebelum melayani Tuhan. Penting sekali bagi kita untuk menyala terlebih dahulu. Itu akan membuat roh kita peka dan melayani bukan dengan kekuatan daging atau jiwa kita. Roh yang peka diperlukan untuk memutuskan apakah kita masuk ke dalam sebuah pintu yang terbuka atau tidak. Ingat sdr-sdr, tidak semua pintu yang terbuka harus kita masuki. Kita tidak pernah tahu siapa yang ada dibalik pintu itu. Terutama di dalam hal persembahan. Kalau kita membawa hadirat Tuhan, maka banyak pintu akan terbuka di depanmu. Orang akan berbondong-bondong mendatangi dan melekat kepadamu dengan motif yang berbeda-beda. Ada yang tulus dan ada yang punya kepentingan khusus. Saya mau jujur kepada sdr sebagai sesama hamba Tuhan. Saya banyak menemukan tipe-tipe orang dalam membangun motifnya saat mengatakan menjadi pendukung pelayanan. Hati-hati sdr. Orang yang semula bermuka manis dapat berbalik mencerca kita karena motivasinya di dalam memberi kurang baik. Oleh sebab itu, kita harus tetap memposisikan diri sebagai hamba Tuhan dan bukan hamba uang! Saya pernah punya pengalaman seperti ini. Seseorang yang mendekat kepadamu akan diuji dan dibuktikan motivasinya seiring dengan waktu. Bukan diuji oleh besar persembahannya kepadamu. Jangan lupa, hati manusia bisa berubah! Jika orang-orang ini kecewa dan tidak menerima sesuatu yang mereka harapkan dari pemberian persembahan kasih kepadamu, mereka bisa berbalik mencelamu dihadapan orang lain. Itu sebabnya saya tegaskan kembali, tidak semua pintu yang terbuka dapat anda masuki. Minta Tuhan pimpin. Ketika kelak ada masalah, kita tinggal serahkan kepada Tuhan. Biarkan dia yang berurusan. Saya pernah membawa seseorang di dalam doa, mengasihinya, yang ternyata menyatakan menyesal pada saya melalui orang lain. Persoalannya sederhana. Saya tidak mau diatur dan memenuhi kepentingannya. Dia kurang memahami posisi saya sebagai hamba Tuhan. Sdr-sdr, sekali lagi berhati-hati. Kita tidak boleh membenci orang-orang yang seperti ini tetapi berhati-hati! Tidak setiap orang yang ingin terhubungan dengan kita memiliki motivasi yang benar sampai kelak itu teruji dengan waktu.

Lalu apa yang harus kita lakukan untuk masuk di dalam keintiman? Di depan kita telah belajar bahwa kita perlu mendekat kepada Tuhan melalui penyembahan dan hubungan pribadi. Aplikasi praktisnya sangat sederhana. Saya selalu memposisikan diri di depan Tuhan pada waktu saya berdoa atau cuma sekedar duduk diam menikmati hadiratNya di manapun saya pergi. Saat-saat paling menyenangkan adalah ketika menuju ke kantor di dalam mobil. Saya bisa merasakan urapan dan jamahanNya selama perjalanan dari rumah ke gereja. Kamar kita adalah ruang doa kita. Kita harus punya ruang privacy bersama Tuhan. Ruang privacy tidak melulu bicara tentang kamar (atau tempat) tetapi menyangkut waktu atau saat-saat berhubungan denganNya. Ada titik dimana saya sedang berada ditengah komunitas, saya merasa Dia sedang memberi sinyal untuk terhubung denganNya, maka saya akan langsung menyambut uluran tanganNya saat itu juga. Saya pergi menyingkir dan intim dengan Dia. Itu saat-saat yang indah dimana Dia sedang meminta sesuatu yang pribadi dengan kita. Jadi hal ini tidak berbicara tentang elevasi waktu belaka! Tetapi kualitas perjumpaan. Sama seperti Ester berjumpa dengan Raja, yang hanya berlangsung beberapa menit. Tetapi perjumpaan yang sesaat itu, mampu membuat hati raja terikat kepadanya. Itulah kualitas perjumpaan yang selalu menjadi kerinduan saya di dalam terhubungan dengan Tuhan baik saat memuji, menyembah, berdoa atau membaca firmanNya. Terlebih saat melakukan sejumlah aktifitas lainnya.

Saya berdoa, apa yang kita dapatkan saat ini dapat menghantar kita menjadi imparter Tuhan di dalam pelayanan sehingga namaNya dimuliakan. Kita berdoa. Bapa di Surga……

TIPS BEKERJA DALAM TUHAN

1. Andalkan Tuhan
Sertakan Tuhan dlm segenap pekerjaanmu, krn banyak yg hrs qt kerjakan ttp tdk diajarkan di Bangku sekolah dan banyak yg terjadi yg tdk pernah qt duga sebelumnya. So, tanpa mengandalkan Tuhan....we can do nothing!
2. Carilah Pengetahuan
Ilmu pengetahuan, cara bekerja yg benar & efisien perlu qt cari. Jangan sungkan belajar dan meminta petunjuk jika tidak mengerti. Dan bagi yang sudah mengerti, jangan sungkan untuk membantu yg belum mengerti 'Dengarkanlah nasihat dan terimalah didikan, supaya engaku menjadi bijak di masa depan'.

3. Rajin dan Cekatan
Hanya orang rajin dan cekatan yang akan diingat oleh pimpinannya, terutama waktu menetapkan promosi jabatan dan kenaikan gaji, 'Tangan yang lamban membuat miskin, ttp tangan orang rajin menjadikan kaya'.

4. Berlakulah Jujur & Benar
'Upah pekerjaan orang benar membawa kepada kehidupan, penghasilan orang fasik membawa kepada dosa'.

5. Jaga Mulut
Mengerjakan tugas-tugas adalah suatu pekerjaan yang berat, jangan ditambahi lagi dengan masalah lain karena mulut qt yg bocor 'Siapa yang memelihara mulut dan lidahnya memelihara diri daripada kesukaran'.

6. Sabar dan Tenang

7. Jangan Ingin Cepat Kaya
Menjadi kaya adalah impian kebanyakan orang dan sah2 saja, yang harus diperhatikan adalah:
- Menjadi kaya, bukanlah tujuan utama dalam hidup ini. Jangan jadikan harta sebagai tujuan hidup, tapi harta adalah sarana untuk mencapai tujuan hidupmu. 'dimana hartamu berada, disitu hatimu berada'.
- Ingin cepat kaya seringkali menjebak orang-orang ke dalam perbuatan yang berdosa.
- Menikmati hidup lebih penting daripada menjadi kaya tetapi mempunyai banyak masalah.
'Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya.'

SELAMAT BEKERJA, GOD BLESS YOU !!!


UANG NGOBROL

 Uang kertas Rp1000 ketemu dengan uang kertas Rp.50.000, lalu bilang, "Hey, kemana saja kamu? aku jarang lihat kamu akhir-akhir ini."
Uang kertas Rp.50.000 menjawab, "Aku habis pergi ke kasino, naik kapal pesiar, lalu ke pertandingan bola, ke supermarket, dan hal-hal semacam itulah.... kalau kamu?
Uang kertas Rp.1000 bilang, "Tau sendirilah.... Seperti biasa, aku digereja terus..." 


KEJUJURAN
 
Orang yang jujur dipimpin oleh ketulusannya, tetapi pengkhianat dirusak oleh kecurangannya (Amsal 11:3)

Hampir pada semua aspek kehidupan ini, kita menjumpai semakin banyak kecurangan, perselingkuhan , atau korupsi, baik yang berskala kecil maupun besar.

Apakah kita sebagai pengikut Kristus pun harus ikut berkompromi dengan dunia yang sudah begitu tercemar ini?

Jawabannya jelas "tidak!"

FirmanNya mengingatkan "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu, sehingga kamu dapat membedakan mana kehendak Allah: Apa yang baik, yang berkenan kepadaNya dan sempurna " (Roma 12:2)

Marilah kita senantiasa memohon pimpinan Roh Kudus agar kita mampu bertahan dan tidak terbawa arus cemar dunia ini!

Saat kita mulai berlatih untuk tidak jujur maka kita sedang mulai menenun sebuah perangkap..


be blessed

"BERI DAN LAKUKAN YANG TERBAIK UNTUK TUHAN"

    Hari ini saya bersyukur kepada Tuhan karena hari ini saya merayakan hari ulang tahun, ini merupakan pemberian Tuhan yang terbaik bagi saya. hari ini kujadikan bahan renungan bagi hidupku dan mengajukan pertayaan untukku, yaitu : " Apa yang telah kulakukan untuk Tuhan?"(Pertanyaan ini kadang menjebak seperti ini: "seakan akan saya orang hebat dan seperti paling hebat dari Tuhan" bukan seperti itu maksudnya....akan tetapi maksudnya adalah => melakukan untuk Tuhan artinya melakukan bagi sesama manusia)

       Suatu ketika saya melihat anakku Queen yang saat itu masih berumur 1 tahun, dia  memegang sebuah Apel yang besar dengan kedua tangannya dan berusaha untuk mempertahankannya dan memakannya. Melihat hal itu saya sebagai bapanya yang mengasihinya berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk dia dan saya bermaksud mengambil appel itu dari tangannya dengan tujuan untuk mengupasnya dan memotong kecil-kecil sehingga anak saya bisa makan. Saya terkejut karena tidak menduga apa yang terjadi, pada saat saya minta apel tersebut dan mengambil dari tangannya, anak saya tidak memberikannya dan berusaha mempertahankannya bahkan dengan sangat geram karena tanganku menyentuh apelnya. Seketika saya merenungkan mungkin saya sama seperti dia, Tuhan adalah bapaku yang mengasihiku, mungkin Dia sering meminta sesuatu dari saya dengan maksud mau mengganti yang terbaik akan tetapi saya tidak memberikannya sehingga berkatnya tidak bisa melimpah.

Mari kita baca lagi dibawah ini :

       Ketika seseorang bekerja; baik di kilang, di ladang, di pejabat, di rumah atau di gereja: Seringkali merasa bersungut-sungut, lakukan kerja dengan cara ala kadar (asal siap / asal jadi) dan tidak melakukan pekerjaan atau tugas itu dengan sungguh-sungguh, sehingga tidak dapat menghasilkan yang 'Excellent'. Kenapa hal ini terjadi?

Excellent itu bererti "Memberi / melakukan sesuatu lebih dari yang diharapkan". Excellent itu lebih dari sekadar baik.

Kolose 3:23 mengatakan : "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu untuk Tuhan dan bukan untuk manusia".

Dari ayat ini ada 3 kebenaran penting tentang bagaimana kita dapat menghasilkan yang 'Excellent' dari apa yang kita lakukan atau kerjakan.

1. TUHAN MENGHARGAI 'APAPUN' YANG KITA LAKUKAN
      Firman Tuhan mengatakan, "Apapun yang kamu perbuat...". Tidak dibatasi dengan hal-hal yang menyenangkan, yang mudah dikerjakan atau yang berkaitan tentang pelayanan saja, tetapi "APAPUN" yaitu segala sesuatu yang kita lakukan. Ketika Anda menulis tesis, menyiapkan 'assignment', mengerjakan kerja-kerja di pejabat, mempersiapkan lagu-lagu yang akan dinyanyikan dalam pertemuan ibadah, mengurus anak, membasuh pinggan mangkuk atau membersihkan gereja, semuanya itu dihargai oleh Tuhan dan Dia rindu anak-anak-Nya melakukannya dengan 'Excellent'.

   Tuhan menghargai bukan saja pelayanan berkotbah, mengajar, membimbing, menasihati atau memimpin jemaat yang harus kita lakukan, tetapi mengurus keluarga juga Tuhan sangat hargai. Ingat: Tuhan menghargai 'Apapun' yang Anda kerjakan dan lakukan.

2. TUHAN MAU KITA MEMILIKI SIKAP "SEGENAP HATI"

        Masalah utama, kenapa ramai orang yang tidak dapat melakukan sesuatu dengan 'Excellent' ialah kerana apa yang dilakukan itu dilakukan bukan dengan sikap "Segenap hati". Segenap hati itu belum tentu dalam hal kepakaran(kemahiran) atau yang kita suka, tahu dan selalu lakukan. Segenap hati itu berkenaan dengan sikap. Wayne Cordiero menuliskan dalam bukunya, "Sikap Yang Menentukan Keberhasilan". Benar! Sikap sangat menentukan keberhasilan. Firman Tuhan juga mengatakan, "...perbuatlah dengan segenap hatimu...". Bererti sikaplah yang menentukan apakah kita mengerjakan sesuatu dengan 'Excellent'.

Tentu Anda ingat cerita klasik tentang perlumbaan di antara kelinci dan kura-kura yang akhirnya dimenangi oleh si kura-kura. Jika diteliti dengan baik, dari segi kepantasan berlari, kelinci lebih pantas dari kura-kura. Tetapi, kenapa dalam cerita ini, kura-kura yang memenangi perlombaan tersebut? Semuanya kerana "Sikap". Ketika kelinci berfikir kura-kura tidak mungkin dapat mengalahkan dia kerana kura-kura itu berjalan sangat perlahan, sikap itu yang terlebih dahulu menewaskan si arnab, bukan kerana kura-kura itu cepat berlari atau kerana kelinci tertidur (seperti dalam cerita dongeng kura-kura vs kelinci).

Ketika Anda bersikap, "Nantilah...baru saya kerjakan...tesis...kerja rumah...persiapan kotbah...persiapan pelayanan...bersiap-siap ke gereja...dan banyak lagi...", sikap itulah yang membuat semua yang Anda lakukan menghasilkan yang tidak 'Excellent".

Tuhan meminta Anda berubah dari sikap "Saya tidak boleh atau saya boleh" kepada "Dengan segenap hati" walaupun Anda tidak mahir melakukannya atau sudah selalu melakukannya. Jika Anda melakukan sesuatu dengan segenap hati, pasti Anda tidak akan membuang atau menangguh masa untuk mengerjakan apa yang patut Anda kerjakan. Jika Anda memiliki sikap "segenap hati", Anda pasti mahu melakukan sesuatu dengan cara yang terbaik, walaupun itu bukan bidang kepakaran atau Anda tidak biasa melakukan pekerjaan itu. Mulailah dari SEKARANG! Praktikkan "Dengan segenap hati".

3. SEGALA SESUATU ADALAH UNTUK TUHAN

          Paulus menuliskan dalam ayat ini, "...untuk Tuhan dan bukan untuk manusia". Kita seringkali berfikir atau menuntut, apa yang kita akan dapatkan jika kita lakukan sesuatu dengan 'Excellent"? Kenapa fikiran itu muncul? Kerana, kita berfikir, apa yang kita lakukan, kita lakukan untuk manusia.

Yesus mengatakan dalam Matius 25:40 "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku." Sebelum ayat 40, Yesus mengatakan "Ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku" Matius 25:35-36.

Ketika Yesus ditanya, bila semua (Ay.35-36) itu terjadi kepada Dia (Lapar, haus, orang asing, telanjang, sakit & banduan) ? Yesus mengatakan bahawa Dia turut merasakan semua penderitaan yang dialami oleh setiap orang di dunia ini.

Jika hari ini Anda melihat seseorang yang dalam keadaan lapar, haus, terasing atau diasingkan, sakit, tidak ada pakaian atau dipenjarakan kerana apa saja kesalahan, apakah 'respon' (tindak balas) Anda? Apakah Anda akan katakan, "Uruslah dirimu sendiri...aku uruskan diriku sendiri" atau "Itulah kamu...kalau kamu tidak mencuri, kamu tidak akan dipenjarakan...kalau kamu bersekolah tinggi kamu tidak akan melarat...kalau kamu tidak melanggani pelacur kamu tidak akan terkena HIV/Aids..". Apakah itu respon Anda?

Yesus tidak pertanyakan kenapa mereka lapar, haus, telanjang, sakit atau dipenjarakan, hari ini Yesus bertanya apakah responmu?

Anda pasti akan melakukan yang 'Excellent' jika segala sesuatu yang Anda lakukan, semuanya tertuju kepada Tuhan dan bukan kepada manusia semata-mata. Bila itu tertuju kepada Tuhan, Anda akan lakukan semua yang terbaik dan sesuai dengan kebenaran firman Tuhan melalui hidup Anda.

RENUNGKAN:

Selama ini, mungkin Anda berfikir, "pekerjaan atau pemberian yang terbaik itu hanya yang saya lakukan di gereja". Itu tidak tepat, kerana Tuhan menghargai apapun (Tidak bertentengan dengan firman Tuhan) yang Anda lakukan.
Anda mungkin berkata, "Saya tidak dapat kerjakan... kerana saya tidak ada kemahiran mengerjakannya..." atau Anda berfikir "Nanti saja... senang saja kerjakan bah itu...", sehingga menghasilkan sikap bukan dengan "segenap hati". Hari ini, Tuhan mahu Anda lakukan segala sesuatu dengan sikap "Segenap hati".

Jangan menuntut, "apa yang saya akan dapat?", ketika Anda melakukan yang terbaik untuk orang lain kerana semua yang Anda lakukan itu tertuju kepada Yesus. Jika Anda ingin menyenangkan hati Tuhan, lakukan sesuatu yang terbaik kepada yang "paling hina" iaitu orang-orang di sekeliling Anda yang memerlukan bantuan.

Tuhan memberkati.

Pola Ilahi dari Gereja Mula-Mula


Kisah Para Rasul 2:41-47

Gereja harus dibangun sesuai dengan pola Sorga. Jika tidak begitu, gereja akan melenceng entah ke mana, dan tidak memenuhi maksud dan tujuan Tuhan menciptakannya. Itu sebabnya gereja harus punya pola. Inilah pola Ilahi dari gereja mula-mula:

1. Gereja dimulai dan dibangun di atas kehidupan yang telah berubah (ayat 14-41).

Gereja mula-mula diawali dengan bangkitnya Simon (ilalang) yang telah diubah Roh Kudus menjadi Petrus (batu karang). Kehidupan yang telah berubah dapat dipakai Tuhan untuk mengubahkan kehidupan yang lainnya, itulah sebabnya ia berkhotbah:

"Berilah dirimu diselamatkan dari angkatan yang jahat ini.”

Tiga ribu orang bertobat dan meninggalkan kejahatan. Dari situlah gereja dimulai dan dibangun. Ini adalah tiga ribu orang yang sungguh bertobat dan siap dimuridkan, bukan sekadar kumpulan orang. Gereja seharusnya dimulai dan dibangun oleh seorang pemimpin yang telah mengalami perubahan hidup dan dengan kumpulan jemaat yang sungguh bertobat dan siap dimuridkan.



2. Jemaat bertekun dalam satu sumber pengajaran dari pemimpinnya (ayat 42).
Setelah bertobat mereka mulai dimuridkan. Alkitab mencatat mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul, pemimpin mereka. Dari manakah pengajaran para rasul? Dari satu sumber, yaitu: Yesus Kristus. Semua rasul menerima pengajaran dari satu sumber, Yesus. Jemaat menerima pengajaran dari satu sumber, pemimpin mereka.

Pemimpin seharusnya menjadi sumber yang memberikan pengajaran kepada jemaatnya, sehingga jemaat bisa bertekun dalam satu sumber pengajaran tersebut. Jika pemimpin bisa terus menerima pewahyuan Firman dari Sorga, Jemaat tidak seharusnya menerima pengajaran dari berbagai sumber, dengan demikian mereka akan memiliki DNA rohani yang sama dan menuju tujuan yang sama. Begitulah caranya jemaat bisa menjadi satu hati dan satu pikiran.

3. Ada roh kesatuan di antara jemaat (ayat 42, 46).

Karena mereka menekuni pengajaran yang sama, mereka pun memiliki pikiran yang sama, sehingga dengan mudah terjadi kesatuan. Jika jemaat menekuni pengajaran yang sama, tidak akan ada perpecahan dalam gereja lokal.

4. Ada roh takut akan Tuhan dan pemimpin (ayat 43).
Pemimpin harus dapat memanifestasikan hadirat dan pekerjaan Tuhan, sehingga perkara-perkara Ilahi terjadi di tengah-tengah jemaat. Dengan demikian, jemaat dicengkeram dengan roh takut akan Tuhan dan pemimpin, mereka bukan hanya menghormati Tuhan tetapi juga pemimpin. Gereja yang dibangun sesuai pola Sorga memiliki rasa hormat di dalamnya.

5. Ada distribusi kekayaan materi oleh pemimpin (ayat 44-45; 4:32-35).
Orang-orang kaya membawa harta mereka di kaki para rasul dan para rasul mendistribusikannya kepada jemaat yang membutuhkan, sehingga terjadi keseimbangan dalam gereja. Begitulah seharusnya gereja!

6. Jemaat tekun dalam beribadah (ayat 46).
Mereka menyadari kuasa ibadah, itu sebabnya mereka tidak pernah menganggap remeh pertemuan ibadah. Dalam ibadah mereka mengalami perjumpaan Ilahi dan perubahan hidup. Mereka menerima pewahyuan Firman yang segar yang memperlengkapi mereka untuk dapat hidup sebagai representasi Kerajaan Sorga di bumi ini.

7. Jemaat berdampak di komunitas (ayat 47).
Karena ibadah memperlengkapi jemaat untuk hidup sebagai representasi Kerajaan Sorga di bumi, mereka menjadi orang-orang yang berdampak di tengah komunitas mereka, sehingga mereka disukai semua orang.

8. Bertambah dalam jumlah (ayat 47).
Dan yang terakhir, setelah nomor satu sampai enam terjadi, maka dengan sendirinya gereja mengalami pertambahan jumlah jemaat. Jadi pertambahan jumlah jemaat bukanlah sesuatu yang mereka usahakan. Ini adalah dampak yang dengan sendirinya akan terjadi jika gereja dibangun sesuai pola Sorga.

BERITAKAN KEMATIAN-NYA


Bacaan : 1 Korintus 11:17-34

Undangan

Coba perhatikan sikap jemaat, termasuk diri kita sendiri, saat mengikuti Perjamuan Kudus. Beberapa orang melakukannya dalam rutinitas dan tanpa rasa. Bahkan, beberapa orang lebih suka membahas rasa anggur dan jenis roti yang dipakai, yang mungkin tak sesuai dengan seleranya. Tak pelak lagi, di banyak gereja, Perjamuan Kudus nyaris kehilangan maknanya.

Jemaat di Korintus juga sempat mengalami hal yang sama. Mereka melakukan rutinitas Perjamuan Kudus tanpa menghayati maknanya (ayat 20). Paulus mengingatkan, Perjamuan Kudus diperintahkan oleh Kristus sendiri, dan setiap kali kita makan roti dan minum anggur, kita sebe-narnya sedang memberitakan kematian Tuhan (ayat 23-26). Kematian ini tidak akan pernah sama dengan kematian siapa pun. Bukan kematian akibat tidak mampu melawan maut yang menjemput, melainkan kematian yang direncanakan dan digenapi sebagai wujud kasih yang besar. Tubuh yang tercabik dan darah yang tercurah bercerita tentang luputnya manusia yang berdosa dari murka Allah oleh pengorbanan Kristus. Melalui Perjamuan Kudus, jemaat Tuhan memberitakan kematian-Nya sampai Dia datang kembali (ayat 26).

Sebab itu, tak boleh kita mengangkat roti dan cawan dengan sikap remeh, apalagi angkuh. Kita adalah sesama pendosa yang menerima anugerah pengampunan melalui kematian Yesus. Tiap kali menghadap meja perjamuan, izinkan berita ini memenuhi sanubari kita dengan rasa takjub sekaligus hormat kepada Tuhan. Banyak orang yang belum memahami dan mengalami karya-Nya. Kitalah yang seharusnya memperkenalkan makna roti dan cawan kepada mereka.

YESUS SUDAH MATI BAGI KITA SUPAYA KITA HIDUP BAGI DIA.

MARI MENJADI PEWARTA KEMATIAN-NYA HINGGA DIA DATANG.

KETAKUTAN DAN KEKHWATIRAN

Dengan penuh kasih Dia akan berkata kepada Anda, "Janganlah takut" (Lukas 12:32). Mintalah kasih karunia-Nya untuk menolong Anda mengatasi segala ketakutan dan kekhawatiran. Kemudian "nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu!" (Mazmur 27:14).

Jika dalam mengarungi perjalanan hidup Anda merasa takut, percayalah kepada TUHAN (Mazmur 56:4) 

Beberapa hari belakangan ini saya sering memperhatikan aktivitas anak saya, suatu ketika saya memperhatikannya, pada saat dia belajar berdiri..kalau dia sendirian mau berdiri terpancar rasa ketakutan dan kekhwatiran, hal itu bukan karena dia tidak bisa atau tidak mampu...akan tetapi dia ragu dan merasa tidak ada menemani.

hal itu saya bisa pastikan bahwa dia punya kemampuan pada saat saya berada disampingnya dan menjaganya, keberaniannya muncul dan rasa keraguannya hilang seketika. mungkin dia merasa ada yang menjaga dan tidak mungkin terjatuh karena ada bapa yang menjaganya.....

demikian juga hidup kita...seharusnya kita harus menaruh kepercayaan kita pada Tuhan bahwa Tuhan tidak akan membiarkan kita dan dia selalu menjaga kita ....pada saat kepercayaan tersebut melekat dalam hidup kita maka kita akan mampu menjalani hidup walaupun banyak rintangan..



DENGAN MEMPERCAYAI KESETIAAN ALLAH
KETAKUTAN KITA AKAN SIRNA

Senjata Allah Sebagai Perlindungan

Efesus  6:10-18
2 Korintus  10:3-6

“karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi”

Firman Allah tidak memerintahkan orang percaya untuk menyerang Iblis, tetapi sebaliknya memerintahkan kita untuk berdiri dan melawan-Nya (Ef. 6:11, 13, 14; cf. 1Pet. 5:8, 9; Yudas 9).

Meskipun orang-orang percaya berjalan dalam daging, pertarungan ini bukanlah pertempuran fisik tetapi bersifat rohani. Senjata yang dipakai bukanlah senjata biasa yang menurut standar manusia. Ketika berhadapan dengan tipuan ular, senjata Allahlah yang harus digunakan untuk mendapatkan kemenangan. Peralatan khusus diperlukan untuk menyerang dan mempertahankan. “Karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng. Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus” (2Kor. 10:4, 5).

Orang Kristen seharusnya melarikan diri dari godaan. Sebagai contoh adalah sikap Yusuf ketika ia dicobai untuk berbuat yang salah (band. Kej. 39:7-23). Di sisi lain, Daniel dan ketiga temannya diserang ketika melakukan hal yang benar di hadapan Allah, dan mereka teguh berdiri melawan Sang Musuh (band. Dan. 3:1-25).

Firman Allah menekankan bahwa kita harus berdiri dengan penuh kemenangan, mengenakan ikat pinggang kebenaran (istilah militer), yaitu suatu tali pinggang yang dilingkarkan di pinggang untuk menahan jubah yang dikenakan. Ikat pinggang juga menahan sarung pedang yang adalah persenjataan, bukan hiasan. Konsepnya adalah untuk memperlengkapi seseorang dengan integritas dan ketulusan yang benar, memahami bahwa kebenaran yang dinyatakan dalam Firman Allah mengusir kegelapan seperti terang dari surga. Baju zirah (band. Yes. 59:17; Ef. 6:14; 1 Tes. 5:8) melindungi tubuh di bagian dada (jantung dan sebagainya) dari serangan musuh, sehingga orang percaya dikatakan harus mengenakan baju zirah kebenaran baik dalam karakternya maupun tindak-tanduknya.

RENUNGKAN: Tanpa mempersiapkan diri dengan ketulusan dan kebenaran, dan tanpa baju zirah kebenaran, orang percaya akan menjadi sasaran empuk musuh, akan dipermalukan, dan akan dikalahkan.

DOAKAN: Tuhan, berikanlah saya kejujuran untuk bertobat setiap hari, untuk berjalan dengan integritas, ketulusan, dan kebenaran.

Ephesians 6:10-18 10 Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya. 11 Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; 12 karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara. 13 Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. 14 Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, 15 kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; 16 dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, 17 dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah, 18 dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus.

2 Corinthians 10:3-6 3 Memang kami masih hidup di dunia, tetapi kami tidak berjuang secara duniawi, 4 karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng. 5 Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus, 6 dan kami siap sedia juga untuk menghukum setiap kedurhakaan, bila ketaatan kamu telah menjadi sempurna.

MENJADI TELADAN YANG BAIK


1 Tim 4:11-12

Beritakanlah dan ajarkanlah semuanya itu. Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.

Rasul Paulus berkata demikian kepada Timotius, seorang gembala yang masih muda. Setiap pemimpin, apakah itu pemimpin gereja atau di mana saja, memiliki suatu tanggung jawab. Tidak peduli siapa diri Anda, orang lain sedang memperhatikan Anda dan terpengaruh oleh teladan hidup Anda. Tidak diragukan lagi jika banyak orang telah menjadi teladan / contoh yang buruk bagi para saudara seiman bahkan kadang-kadang menjadi teladan yang buruk bagi umat percaya yang masih lemah iman atau yang baru bertobat / lahir baru. Tidak ada alasan apa pun juga yang bisa membenarkan perbuatan Anda untuk berhak memandang rendah orang lain; apakah karena sedang mengalami hari yang buruk atau karena terlalu banyak disakiti di masa lalu sehingga sekarang menjadi pribadi yang over sensitif.

Ada perkataan bijak yang berbunyi, “seorang pemimpin yang baik adalah seseorang yang mengetahui suatu jalan, kemudian melangkah ke jalan tersebut dan menunjukkan jalan itu.” Jadi, tidak cukup dengan hanya mengetahui jalannya saja. Yesus berkata, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup” dan Yesus telah melakukannya. Rasul Paulus berkata, “Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya….” Ini berarti bahwa usia muda bukanlah alasan untuk tidak sanggup menjadi teladan yang baik. Lalu, bagaimana caranya untuk menjadi teladan yang baik?

    Menjadi teladan melalui perkataan

Dalam Kolose 4:6 ditulis, “Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang.” Melalui perkataan yang positif dan membangun, kita menjadi teladan yang baik bagi orang lain dan sekaligus menjadi berkat lewat perkataan kita.

    Menjadi teladan melalui cara hidup
“Orang benar akan hidup oleh iman" (Roma 1:17, Habakuk 2:4). Iman adalah dasar kehidupan umat percaya. Cara hidup dengan iman merupakan teladan yang baik yang dapat kita praktekkan dalam kehidupan sehari-hari ketika menghadapi situasi apapun juga.

    Menjadi teladan melalui cara kita mengasihi orang lain

Yoh 13:35 menulis, “Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi." Kita menjadi saksi Kristus bagi orang lain melalui kasih yang kita nyatakan dalam perbuatan nyata. Perbuatan kasih adalah teladan baik yang perlu kita lakukan karena Yesus telah terlebih dahulu mengasihi kita.

    Menjadi teladan melalui perbuatan iman

Abraham adalah teladan orang beriman (Roma 4:18-22). Perbuatan imannya nyata ketika ia tetap percaya dan tidak bimbang akan janji Tuhan walaupun tubuhnya sudah sangat lemah, usianya sudah sangat tua dan rahim Sara telah tertutup. Menjadi teladan iman yaitu jika kita hidup dan melakukan perbuatan iman.

    Menjadi teladan melalui hidup kudus

Fil 4:8 Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci , semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu. Memiliki pikiran yang kudus adalah awal untuk kita dapat hidup dalam kekudusan, menjaga kekudusan dan menjadi contoh nyata bagi orang lain.

Perbuatan kita sehari-hari secara langsung / tidak langsung sangat berpengaruh terhadap orang lain. Terutama bagi para pemimpin, menjadi teladan yang baik sangatlah mempengaruhi karakter orang-orang yang dipimpinNya. Yesus telah menjadi teladan yang baik melalui perkataan maupun perbuatan. Kita pun bisa menjadi teladan yang baik melalui perkataan, cara hidup, cara kita mengasihi orang lain, melalui perbuatan iman dan melalui hidup kudus. Jika kita melakukannya, hidup kita telah menjadi saksi Kristus yang hidup dan nyata di tengah dunia.

Sumber: http://id.shvoong.com/humanities/religion-studies/1918805-menjadi-teladan-yang-baik/#ixzz1qZTPXZvC